Langsung ke konten utama

Inilah Tata Cara Salat Sunah Gerhana

Fenomena alam langka berupa Gerhana Matahari Total (GMT) akan terjadi di langit kawasan Indonesia. Tetapi, terdapat sebagian daerah yang hanya dapat menyaksikan Gerhana Matahari Sebagian.

Saat terjadi gerhana, umat Islam dianjurkan untuk melaksanakan salat sunah gerhana. Berkaitan dengan matahari, maka salat gerhana itu disebut dengan salat kusuf.

Hal ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh Muslim. Hadis tersebut berasal dari Aisyah Radhiyallahu 'Anha.


"Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan bahwa pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah terjadi gerhana matahari. Beliau lalu mengutus seseorang untuk menyeru ‘Ash sholatu jami'ah’ (mari kita lakukan shalat berjama’ah). Orang-orang lantas berkumpul. Nabi lalu maju dan bertakbir. Beliau melakukan empat kali ruku’ dan empat kali sujud dalam dua raka’at."


Ini Tata Cara Salat Sunah Gerhana
Sementara tata cara salat gerhana termaktub dalam hadits yang diriwayatkan Bukhari dari Aisyah RA.


"Aisyah menuturkan bahwa gerhana matahari pernah terjadi pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lantas beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bangkit dan mengimami manusia dan beliau memanjangkan berdiri. Kemudian beliau ruku’ dan memperpanjang ruku’nya. Kemudian beliau berdiri lagi dan memperpanjang berdiri tersebut namun lebih singkat dari berdiri yang sebelumnya. Kemudian beliau ruku’ kembali dan memperpanjang ruku’ tersebut namun lebih singkat dari ruku’ yang sebelumnya. Kemudian beliau sujud dan memperpanjang sujud tersebut. Pada raka’at berikutnya beliau mengerjakannya seperti raka’at pertama. Lantas beliau beranjak (usai mengerjakan salat tadi), sedangkan matahari telah nampak."


Dari hadits tersebut, tata cara pelaksanaan salat gerhana adalah sebagai berikut:

Salat diawali membaca niat salat gerhana dalam hati. Pelaksanaan salat gerhana dijalankan dengan berjamaah.


Kemudian, Takbiratul Ikhram seperti salat biasa, dilanjutkan membaca doa iftitah dan disambung Surat Al Fatihah secara jahir atau dengan suara keras.

Usai membaca Surat Al Fatihah, membaca surat yang panjang seperti Al Baqarah secara keras pula.


Gerakan selanjutnya adalah ruku'. Pelaksanaan ruku' harus lebih panjang dari biasanya.

Setelah ruku', gerakan selanjutnya adalah i'tidal disertai doanya. Setelah itu tidak langsung sujud melainkan kembali membaca Surat Al Fatihah dan surat panjang namun tidak sepanjang berdiri yang pertama.

Setelah itu, ruku' kembali dengan lama yang tidak terlalu panjang daripada ruku' sebelumnya. Usai ruku', kembali i'tidal dan dilanjutkan dengan sujud yang waktunya dipanjangkan seperti ruku' pertama.


Usai sujud, gerakan selanjutnya adalah duduk di antara dua sujud, kemudian sujud kembali.

Setelah sujud, kembali berdiri dan mengerjakan rakaat yang sama dengan rakaat pertama. Tetapi, lama gerakan pada rakaat kedua ini lebih singkat daripada rakaat pertama.

Setelah menyelesaikan rakaat kedua hingga sujud, salat ditutup dengan duduk tasyahud dan salam. Setelah salat selesai, khatib segera menuju mimbar untuk menyampaikan khutbah.





 Sumber : Dream.co.id

CAR,HOME DESIGN,HEALTH, LIFEINSURANCE,TAXES,INVESTING,BONDS,ONLINETRADING,

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Inilah HADIST yang Lebih BERHARGA dari Sepenuh Bumi Berisi EMAS

Setiap amalan yang kita lakukan, pastinya akan mendapatkan balasan dari Allah, baik itu di dunia atau di akhirat kelak. Oleh karena itu, sebagai manusia kita harus berhati-hati dalam berperilaku karena akan dimintai pertanggungjawabannya atas semua itu.  Kehidupan dunia bukanlah kehidupan yang hakiki karena pada suatu saat nanti akan terjadi kiamat dimana segala yang ada di jagad raya ini akan hancur dan setiap makhluk akan mati.   Kehidupan yang hakiki adalah kehidupan di akhirat dan Allah telah menyediakan dua tempat, yakni surga dan neraka. Setiap orang pasti tidak ingin masuk neraka dan menginginkan n 1 kmat di surga. Namun, untuk mendapatkannya, membutuhkan usaha yang harus dilakukan. Syarat pokok seseorang untuk masuk surga adalah amalan yang berkualitas dan berkuantitas. Hanya Allah yang mengetahui dimana kita akan masuk. Terlebih, bagi orang yang jarang melakukan amalan, maka ia hanya memiliki kesempatan kecil untuk masuk surga yang penuh dengan ken1kmatan itu. K...

Subhanallah, Menurut Penilitian Di Inggris Wanita Yang Berjilbab Memancarkan Citra Yang Positif

Sebuah survei terbaru telah menemukan bahwa wanita Muslim Inggris yang berjilbab memiliki body image yang lebih positif, hal ini kurang dipengaruhi oleh standar kecantikan seperti yang digambarkan dalam media dan tempat yang kurang mementingkan penampilan, dibandingkan dengan wanita yang tidak mengenakan jilbab. “Secara keseluruhan, hasil ini konsisten dengan penelitian sebelumnya yang menunjukkan bahwa perempuan yang memakai pakaian non-barat memiliki indeks lebih positif dibandingkan dengan wanita yang mengenakan pakaian Barat,” Dr Viren Swami, penulis utama dari British Journal of Psychology studi, mengatakan. Dilakukan pada 587 wanita Muslim antara umur 18 sampai 70 di London, penelitian ini menemukan bahwa sikap positif didorong oleh mengenakan jilbab Islam, bukan religiusitas. “Sementara kita tidak boleh beranggapan bahwa seorang wanita yang memakai jilbab kebal dari body image yang negatif, hasil ini tidak menunjukkan bahwa mengenakan jilbab dapat membantu beberapa ...

Manakah Yang Benar.. Tangan Dulu Ataukah Lutut Ketika Turun Sujud?

“Tangan dulu ataukah lutut saat turun hendak sujud?” Sebuah pertanyaan yang kadang masih menjadi sebuah perdebatan dalam pelaksanaan ibadah shalat adalah manakah yang mesti didahulukan,   Hal yang pertama mesti kita pahami adalah kedua tata cara tersebut diperbolehkan dalam ibadah shalat. Pembolehan tersebut didasarkan atas kesepakatan para ulama. Namun masih saja para ulama berselisih tentang manakah yang lebih utama dari keduanya. Ibnu Taimiyah berkata dalam kitab Majmu Al Fatawa: “Adapun shalat dengan kedua cara tersebut diperbolehkan dengan kesepakatan para ulama, kalau dia mau maka meletakkan kedua lutut sebelum kedua telapak tangan dan kalau mau maka meletakkan kedua telapak tangan sebelum kedua lutut, dan shalatnya sah pada kedua keadaan tersebut dengan kesepakatan para ulama. Hanya saja mereka berselisih pendapat tentang yang afdhal” Hal yang kedua adalah melihat dari kondisi masing-masing keadaan sehingga tidak bisa dikatakan meletakkan tangan dahulu lebih afdhal ataupun s...